Ribut Soal Uang Pajak Tanah (PBB), Camat Tamalanrea Pukuli Dosen

detiknews.com, 28 Oktober 2010

Makassar – Aksi anarkis dilakukan oleh Sabri, Camat Tamalanrea, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Dia memukuli Sultan, seorang dosen salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung hingga babak belur. Peristiwa itu dipicu masalah pajak tanah.

Aksi anarkis itu dilakukan Sabri di depan rumahnya di kompleks perumahan dosen UMI, Jalan Racing Center, Makassar, Kamis (28/10/2010). Akibat kejadian itu, pelipis kanan dan pipi kiri Sultan bengkak. Dada serta leher pria itu juga memar akibat jotosan sang camat.

Saat ditemui detikcom di Mapolsek Panakukang, Sultan mengatakan, peristiwa ini berawal dari kedatangannya ke rumah Sabri. Kedatangan Sultan untuk menagih uang PBB sebesar Rp 7,5 juta atas tanah seluas 8,9 hektar di Kelurahan Bira, Kecamatan Biringkanaya, Makassar yang dimiliknya pada tahun 2008.

Namun kedatangan Sultan tidak disambut baik oleh Sabri. Camat yang dikenal jago silat itu langsung menghujani bogem mentah ke wajah dan dada Sultan.

“Saya ke rumahnya karena dia susah dihubungi atau ditemui di kantornya. Saya datang hanya untuk menagih uang saya yang tidak pernah disetor Sabri ke kantor Pajak,” ujar Sultan.

Sultan menuturkan mengenal Sabri pada tahun 2008 lalu di Kecamatan Biringkanaya ketika akan menjual tanah warisan leluhurnya. Sabri meminta Sultan uang Rp 7,5 juta untuk membayar SPT PBB agar bisa mengantongi dokumen resmi tanah yang hendak dijual itu.

Tapi kenyataannya, dana tersebut tidak pernah dibayarkan Sabri ke kantor pajak. Akibatnya selain kehilangan Rp 7,5 juta, Sultan juga kehilangan tanah warisannya seluas 8,9 hektar yang gagal diurus oleh Sabri.

“Kedatangan saya di Kantor Polisi, selain untuk melapor kasus penganiayaan juga soal kasus penipuan yang dilakukan Sabri,” ujar Doktor Komunikasi alumni Universitas Padjajaran ini.

Ditemui terpisah, Sabri mengatakan terpaksa memukuli Sultan. Sebab Sultan yang datang bersama temannya, masuk ke rumah Sabri tanpa izin. Sultan juga ke garasi dan memotret mobil Toyota Alphard miliknya.

Menurut Sabri, tindakan Sultan itu membuat istrinya shock. Padahal istrinya baru saja keluar dari rumah sakit karena mengalami keguguran.

“Kondisi istri saya masih trauma, tiba-tiba dia masuk tanpa izin dan foto-foto. Masih untung saya bisa mencegah tetangga-tetangga yang sudah emosi dan hendak mengeroyok dia,” tutur Sabri.

Sabri mengaku sedang potong rambut di salom saat Sultan dan temannya  masuk ke dalam rumahnya. Dia mengetahui hal itu setelah ditelepon pembantunya.

“Saya jengkel, persoalan di kantor dibawa-bawa ke rumah. Uang Rp 7,5 juta itu sudah pernah disetor ke kantor Pajak. Tapi karena dokumennya salah, pemiliknya bukan Sultan, jadinya uang itu ditolak. Kalau mau ambil uang itu datangnya ke kantor,” tandas camat yang juga ketua panitia pertandingan PSM Makassar ini.

Kanit Reskrim Polsek Panakukang, Iptu Muh. Fadly, menyebutkan kedua pihak yang bertikai ini masih diproses di ruang penyidik. Sultan juga harus divisum luka-luka memarnya di rumah sakit.

“Keduanya saling lapor, Sultan kasus penganiayaan, Sabri melapor kasus membuat perasaan tidak enak karena rumahnya dimasuki tanpa izin. Keduanya belum ada yang ditahan, masih diperiksa,” tutup Fadly.

Pos ini dipublikasikan di Cermin. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s