Gejala deindustrialisasi jadi keprihatinan bersama !

Oleh Agust Supriadi & Demis Rizky Gozta

Published On: 28 July 2011

JAKARTA : Pengamat dan pelaku ekonomi prihatin terhadap gejala deindustrialisasi yang sudah mulai terjadi di Indonesia akibat pemberlakuan pasar bebas, menyusul rata-rata pertumbuhan industri yang lebih rendah dibandingkan laju perekonomian.

Didik. J. Rachbini, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), mengungkapkan peran sektor industri dalam mendorong pertumbuhan ekonomi semakin menyusut dari tahun ke tahun. Apabila di zaman Orde Baru persentase pertumbuhan industri dua kali lipat dari pertumbuhan ekonomi, sekarang justru jauh di bawahnya.

“Dulu kalau pertumbuhan ekonominya 7%, pertumbuhan industrinya bisa 12%-14%. Seharusnya seperti itu. Sekarang kalau pertumbuhan ekonominya 7%, industri hanya tumbuh 2%-5%. Jadi deindustrialisasi itu bukan halusinasi, tapi nyata (terjadi),” ujar dia dalam seminar bertajuk Deindustrialisasi di tengah Pusaran CAFTA, hari ini.

Di tengah potensi kenaikan perdagangan di kawasan Asean, Didik mempertanyakan kemampuan Indonesia mengambil peluang tersebut. Pasalnya, dengan penerapan Perjanjian Perdaganagn Bebas Asean dengan
China (CAFTA) saat ini, industri kecil di Tanah Air semakin terpukul oleh serangan produk impor asal Negeri Tirai Bambu.

“Ekspor China ke Indonesia atau impor pada 2006 itu kira-kira 6,6% atau sekitar US$3-US$4 miliar. Sekarang sudah mencapai US$20 miliar. Artinya dalam waktu 4 tahun meningkat 300%. Kalau dibiarkan akan makin jauh membunuh industri kecil kita,” tandasnya.

Menurutnya, semua itu tidak terlepas dari permasalahan politik bahan baku yang memukul daya saing ekonomi nasional. Hal itu tercermin dari kebijakan pemerintah yang terkesan tarik-ulur terhadap penjualan bahan mentah ke luar negeri, mulai dari rotan, kelapa sawit, hingga gas.

“Diakui sendiri oleh Menteri Perindustrian (M. S. Hidayat) bahwa peranan industri turun (terhadap pertumbuhan ekonomi),” katanya.

Bambang Sujagad, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, mengatakan 40 tahun lalu  perekonomian Indonesia lebih baik dibandingkan Malaysia, Singapura, atau bahkan China. Namun, sekarang justru tertinggal sejalan dengan perubahan mashab ekonomi di banyak negara, yang mulai meninggalkan konsep pasar bebas.

“Di Asia ada dua negara yang kini menganut pasar bebas, yaitu Filipina dan Indonesia. Kesamaan keduanya, a.l. masih mengekspor pembantu rumah tangga. Pasar bebas kini dianggap sebagai langkah yang keliru. Sudah weaktunya kita berfikir, apakah masih cocok Indonesia menerapkan pasar bebas?” ujarnya. (faa)

Pos ini dipublikasikan di Economics. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s