WUJUDKAN CINTA DAN SYUKUR

( Oleh H.M. Ziyad Ulhaq SQ.,S.Ei.,MA )

Menyambut Idul Adha ( Idul Qurban )

 

Orang yang sedang jatuh cinta biasanya mudah terlihat. Wajahnya berseri-seri, sering senyum sendiri, dan berdandan setiap hari. Menjemput-mengantar kekasih pun rela dilakukan. Kata sang wanita, ” inilah ujian cinta sejati “.

Cinta memang belum dapat dikatakan “sejati” jika belum teruji. Nabi Ibrahim AS beserta anaknya yang bernama Nabi Ismail pun tidak luput dari ujian cinta itu. Allah meminta agar Nabi Ibrahim mengorbankan anaknya, Nabi Ismail.

Dengan rasa ikhlas dan berserah diri, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mengikuti perintah Allah SWT. Di saat Nabi Ismail (lehernya) sudah berada di ujung pedang tajam, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk mengganti qurbannya dengan seekor domba. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail lulus ujian cintanya kepada Allah SWT.

Sebagaimana Nabi Ibrahim AS, ibadah pemotongan hewan qurban yang kita lakukan adalah cerminan dari rasa syukur atas nikmat yang telah Allah karuniakan. Sebagaimana yang tertulis dalam surah berikut:

sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah”. ( QS. Al-Kautsar 108 : 1-2 ).

Ibadah qurban adalah ritual ibadah yang dilakukan setelah sholat Idul Adha, mulai tanggal 10 s/d 13 Dzulhijjah. Apa saja hal penting seputar Idul Adha. Langsung simak uraian berikutnya.

Hukum Shalat Idul Adha

Ada beberapa pendapat mengenai hukum shalat Idul Adha. Pertama, hukum shalat Ied (shalat hari raya) wajib hukumnya bagi kaum laki-laki. Pendapat ini dinukil dari imam Abu Hanifah dan merupakan salah satu riwayat dari Imam Syafi’i.

Kedua, shalat ‘Ied hukumnya sunnah muakkad atau sunah yang sangat dianjurkan. Pendapat ini adalah pendapat Imam Malik dan riwayat mashyur dari Imam Syafi’i.

Fardu Kifayah, maksudnya kewajiban shalat ‘Ied gugur apabila sudah dilaksanakan oleh sebagian dari kita. Pendapat ini dinukil dari Imam Ahmad dan merupakan pendapat sebagian ulama yang bermahdzhab Syafi’i.

Dari ketiga pendapat ini, yang paling kuat ialah pendapat yang kedua, yaitu hukum shalat ‘Ied adalah sunah muakkad. Karena pada dasarnya, Diriwayatkan dari Thalhah bin Ubaidillah ra : Seorang sahabat datang kepada Rasulullah SAW dari penduduk Najd bertanya kepada Rosulullah tentang Islam. Lantas Rasulullah menjawab, ” Lima waktu dalam sehari semalam”. Kemudian ia menimpali, ” Adakah kewajiban selain itu ?” Beliau menjawab, ” tidak kecuali shalat sunnah”. ( HR. Bukhari Muslim).

Waktu Shalat

Waktu pelaksanaan shalat ‘Ied pada dasarnya ialah di pagi hari. Hanya saja, kapankah shalat tersebut mulai boleh dilaksanakan? banyak pendapat mengenai hal ini.

Pertama, Waktu shalat ‘Ied dimulai dari terbitnya matahari setinggi tombak , atau kurang lebih sekitar pukul 06:30 WIB sampai sebelum zawal atau sebelum waktu dhuhur tiba. Yakni kurang lebih pukul 11:30 WIB. Pendapat ini merupakan pendapat sebagian besar madzhab. Diantaranya madzhab Hanafi, Maliki, Hambali, dan mayoritas madzhab Syafi’i.

Kedua, menurut pendapat sebagian ulama bermadzhab Syafi’i, shalat ‘Ied dilaksanakan mulai awal terbitnya matahari sampai waktu zawal.

Dari kedua pendapat itu, pendapat pertamalah yang lebih tepat. Karena Rasulullah SAW melarang melakukan shalat ketika matahari terbit dan setelahnya. Diriwayatkan dari ‘Uqbah bin Amir ra, ia berkata, ” Tiga waktu yang Rasulullah SAW melarang kita shalat dan menguburkan jenazah ketika itu (yaitu) tatkala matahari (baru) terbit, sampai ia naik (agak tinggi).” ( HR. Muslim, Daud, Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad).

Hukum Takbiran, Waktu dan Lafalnya

Hukum takbiran di malam Idul Adha ialah sunah menurut kebanyakan ulama. Allah SWT berfirman, ” Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepada kamu supaya kamu bersyukur.” ( QS. Al-Baqarah (2) : 185 )

Pendapat ini berbeda dengan madzhab Ibn Hazm. Dalam pandangannya, bertakbiran di malam Idul Adha adalah wajib. Sedangkan waktu diperbolehkannya membaca takbir menyambut Idul Adha ialah dimulai dari terbitnya matahari di hari Arafah dan berakhir ketika matahari terbenam di ufuk barat. Tepatnya tanggal 13 Dzulhijjah.

Sedangkan di antara lafal takbir yang terkenal adalah :

Allahu akbar, Allahu akbar, lailaaha illa Allahu Allahu akbar, Allohu akbar walillahilhamd.”

( HR. Ibnu Syaibah dan Ibarahim Nakha’i ). Lafal inilah yang kemudian banyak dipakai oleh empat mahzhab yang empat. Hanafi, Maliki, hambali dan syafii

 

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s