Anis Baswedan: Korupsi, dari lahir sampai liang kubur…

Anis Baswedan: Korupsi, dari lahir sampai liang kubur…

Selasa, 16 Agustus 2011 | 20:13 WIB

(BISNIS INDONESIA)
Salah seorang tokoh muda yang banyak menyoroti kondisi kekinian Indonesia adalah Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan.

Bisnis mewawancarai intelektual muda ini untuk mengetahui apa pandangannya tentang republik kita, mafia, dan korupsi. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana Anda melihat Indonesia masa kini?

Republik ini didirikan dengan empat cita-cita yang sering disebut: melindungi, mencerdaskan, menyetahterakan [rakyat], dan ambil bagian dalam kehidupan global. Saya merasa, sudah saatnya kita berhenti menyebut empat hal itu sebagai cita-cita. Mari kita pahami  hal itu sebagai  janji. Janji kita itu melindungi, janji mencerdaskan, janji menyejahterakan.

Kalau kita lihat kita semua sama-sama hari ini, lalu kita tengok ke sejarah kita masing-masing, jejak kemiskinan dan keterbelakangan itu pasti ada. Tidak ada orang di Jakarta ini yang bisa mengatakan saya dari zaman dulunya sudah kaya. Gak ada bisa yang mengatakan begitu.

Kalau Anda tanya kepada para pengusaha itu, ”Di mana Anda 50 tahun lalu?” Pastilah mereka tinggal di desa, di kampung. Iya kan?

Saya termasuk yang tidak setuju dengan orang yang mengatakan Indonesia tidak ada kemajuan, siapa bilang? Republik ini penuh dengan kemajuan. Kita merdeka dengan 5% penduduk yang melek huruf. Oh my God. Bayangkan, 95% orang buta huruf.

Hari ini, tinggal 8% orang yang buta huruf. Bayangkan, bangsa mana yang bisa mengonversi rakyat yang dari total  buta huruf menjadi semua melek huruf dalam waktu kurang dari 60 tahun.

Coba lihat global competitiveness index. Pay and productivity kita di atas Denmark dan Jerman. Kemudian innovation, value chain kita di atas negara Eropa barat. Untuk hal-hal yang itu, kita bagus.

Kalau kita lihat, kita punya aspek-aspek yang sebenarnya bisa membuat kita cepat maju, Jadi apa yang membuat kita mundur? Persoalannya adalah integritas! Integritas menjadi rem bagi kemajuan kita.

Soal kriminal yang terorganisasi, kita sama dengan negara-negara Afrika. Reliability of police service kita sama dengan Ghana. Reliability of upholding contract kita sama dengan Mali. Untuk business ethic kita di bawah Zambia.

Di sini, saya melihat leadership itu menjadi penting menyangkut integritas. Dahulu ketika republik ini berdiri, semua pemimpinnya orang-orang punya integritas.

Kenapa kok bisa pemimpinnya semua punya integritas begitu?

Karena [ketika itu], syarat menjadi pemimpin adalah mereka mau meninggalkan kenyamanan dan siap berjuang dengan orang-orang yang tidak terdidik.

Bung Karno, Bung Hatta, dan Sjahrir kalau mau hidup nyaman dan sejahtera bersama keluarganya, seluruh persyaratannya mereka sudah punya. Tetapi mereka memilih untuk tidak begitu. Mereka memilih berjuang bersama rakyatnya.

Jadi, efeknya, yang menjadi pemimpin perjuangan ketika itu adalah orang yang tidak terpesona dengan kekuatan materi. Kalau mereka milih materi, tentulah mereka ikut bersama kekuatan kolonial Belanda. Ketika republik ini berdiri, bukan tidak ada persoalan korupsi. Gubernur Jenderal Belanda itu dipecat karena korupsi.

Hari ini, kita belum seperti itu. Justru ketika melihat ke puncak, kita melihat masalah besar sekali. Ini menjadi beban bangsa. Kalau saya bicara pemimpin, bukan berarti kita hanya Pak SBY. Semua pemimpin di negeri ini, termasuk di daerah.

Integritas itu yang harus dikembalikan.  Bangsa ini betul-betul defisit integritas. Ada sistem koruptif yang harus dibongkar. Mafia kan ada di mana-mana.

Tapi ingat, soal mafia, bukan cuma kita saja yang mengalami. Hong Kong, dulu, kurang apa soal mafia. Kolombia dengan narkobanya. Ternyata mereka bisa lepas dari soal itu sekarang.

Leadernya [di sana] itu hadir dengan sikap, [dan berkata], ”Saya akan perangi mafia itu, tanpa syarat.” Oleh karena itu, saya berharap pemimpin kita tidak memiliki beban sehingga bisa memerangi mafia secara all out.

Kepemimpinan itu satu hal. Apalagi yang harus segera diperbaiki?

Selain leaadership, hal lain yang penting adalah kenyataan bahwa kita berjalan di alam demokrasi. Demokrasi bisa berjalan dengan baik kalau diikuti dengan dua pilar yang juga berjalan beriringan yaitu development dan rule of law.

Nah kita di era demokrasi. Demokrasi [Indonesia] ini dikelola tanpa ada perencanaan. (Anies memberikan beberapa contoh bagaimana demokrasi kita berjalan tanpa perencanaan].

Demokrasi itu terancam kalau tidak terkonsolidasi, [yang kemungkinan jatuh kepada], dua pihak kecil yang tidak penting, yang tidak ada pengaruhnya.

Kelompok pertama, ekstrem kanan yang menolak demokrasi karena idelologi agama. Di sisi lain ada ultranasionalis yang memandang demokrasi bukan sistem asli kita. Mereka sekarang tidak punya suara, tidak punya tempat.

Mereka hanya akan punya tempat kalau demokrasi tidak deliver. Publik nanti akan merasa buat apa demokrasi kalau tidak menghasilkan apa-apa?

Bagaimana Anda melihat fenomena korupsi di Indonesia?

Korupsi saya bagi tiga: pertama korupsi by need. Pegawai negeri sipil yang gajinya hanya cukup untuk 15 hari, pastilah dia korupsi karena memang kebutuhannya tidak tercukupi. Kita tidak perlu teori panjang tentang hal itu, sudah jelas itu.

Kedua, sistem yang memaksa tindakan korup. Sebagai contoh, pelaksanaan ujian nasional. Para guru kita kalau ditanya mau gak mereka berbuat tidak jujur, jawabannya pasti tidak. [Mereka] kalau dibilang need tidak, serakah juga tidak. Mereka dikunci dalam suatu sistem yang memaksa mereka menjadi tidak jujur. Cuma kalau mereka jujur, anak didik mereka tidak lulus.

Nah kita tidak me-review, [padahal] banyak sekali aturan yang membuat orang terjebak dalam korupsi, dari mulai penganggaran sampai pada pelaporan. Sistemnya harus dibuat agar orang menomorsatukan integritas.

Yang ketiga korupsi karena greed. Kerakusan itu musuhnya penegakan hukum. Kalau [orang korupsi karena] need itu kamu ancam, mereka tidak peduli karena memang harus dipenuhi kebutuhan itu.

Kalau ada contoh kita tegakkan hukum tanpa pandang bulu, kerakusan itu pasti akan berhitung.

Indonesia ini kombinasi yang lengkap dari ketiga bentuk korupsi itu. Korupsi itu dari lahir sampai liang kubur, seperti Anda bilang.

Anda yakin bangsa ini bisa memberantas korupsi dan memerangi mafia secara segera?

Ya, saya yakin. Korupsi itu bukan cuma kita yang mengalami. Kita bisa belajar dari China. Di sana ada keseriusan. Yah, itu tadi, para pemimpin China itu tidak memiliki beban masa lalu. Mereka tidak takut kena hukuman karena memang tidak terbebani kesalahan pada masa lalu.

Kita perlu orang waras yang punya nyali. Kita juga bisa seperti China. Memang di Indonesia ini tidak banyak orang yang punya nyali? Banyak orang yang punya nyali di sini, cuma mereka tidak punya otoritas.

Kembali kepada ketiga bentuk korupsi, semuanya sudah jelas. Salah satu yang harus dibereskan ialah menyangkut pelayan publik. Orang akan merasa nyaman tanpa korupsi.

Kita punya kelas menengah yang baru. Kelas menengah ini harus berperilaku dengan adab yang lebih baik. Saya terus terang merasa tersinggung membaca iklan AirAsia yang memajang iklan paket ke Singapura untuk menonton film Harry Potter. Itukan hasil penilaian orang iklan kepada kita. Dan, itu menunjukkan potret kita.

Ketika bicara kepemimpinan nasional, tentu kita tidak bisa lepas dari sosok Presiden. Apa yang harus segera dilakukan Presiden SBY?

Saya orang yang berkeyakinan, jangan sampai pemerintahan [SBY] ini berhenti di tengah jalan. Kalau berhenti, kerusakan politik sosial ekonominya terlalu mahal. Pandangan dunia internasional terhadap Indonesia akan luar biasa berubah. Di dalam negeri, uncertainty muncul.

Menjadi penting bagi pemerintah untuk menyelesaikan waktunya sampai akhir. Syaratnya, pemimpin berani melakukan terobosan-terobosan yang berani. Jangan merasa business is usual.

Harus ada keyakinan, ambil keputusan secara tegas dan cepat. Jangan keputusan itu di-pending, karena pesannya ke bawah [anak buah] bisa salah. Yang di bawah merasa ’Oke, yang di atas tidak ambil, keputusan, saya juga gak mau ambil keputusan…” Yang di bawahnya lagi juga mikir begitu, terus ke bawah.

Ketidaktegasan itu menular sangat cepat dan sistemik. Yang di depan [pemimpin] itu harus cepat. Ilustrasinya seperti kemacetan di jalan tol yang di ujungnya ternyata tidak ada-apa. Yang terjadi adalah, mobil yang paling depan menurunkan kecepatannya menjadi 90 km, mobil di belakangnya turun menjadi 70 km, begitu seterusnya.

Dua kilo meter, setelah itu, mobil sudah tidak bergerak. Yang paling depan itu harus paling cepat mengambil keputusan. Keterlambatan itu juga menular dengan cepat.

Selanjutnya, pemimpin harus berani mengambil sikap yang ’intervensionis’. Kenapa? Karena kita di Indonesia ini aturan mainnya belum sempurna. Kalau kita ngikutin SOP terus, yah jebol bangsa ini. Kalau memang aturan sudah sempurna, kita harus sesuai ketentuan.

Selanjutnya, bangun suasana di mana pemimpin itu hands on. Kita kan senang pemimpin hands on. [Misalnya seperti perintah SBY] “Tangkap Nazaruddin.” Begitu tegas pesannya. Dalam waktu sebulan, Nazaruddn tertangkap. Kalau ada kemauan ada jalan. Begitu perintah jelas, turun ke bawah yah tidak ada keragu-raguan lagi karena pesannya jelas. Bawahan bilang, ”Ok, I will do it.”

Omong-omong soal pemerintah, Anda yakin, partai politik akan mempertahankan SBY sampai 2014?

I hope so, karena ini bukan soal pro-SBY atau kontra-SBY, tapi ini untuk membantu sustainablity dari demokrasi kita. Tetapi di sisi lain, Presiden juga harus berubah, tidak bisa begini terus.

Kita ini kan dengarnya derap-derapnya gagah, tapi kalau dilihat ternyata jalan di tempat. Bangun suasana dalam kepemimpinan itu di mana pemimpin hands on. Jadi kalau ada kemauan itu, ada jalannya. Kalau dari atas itu perintahnya jelas “tangkap” sampai ke bawah itu tidak akan ragu-ragu, karena pesannya jelas. Jangan ada kesan keraguan-raguan.

Agar tidak terlalu menyalah-nyalahkan Presiden, fungsi menteri-menteri ini menurut Anda dalam Kabinet Indonesia Bersatu II ini bagaimana?

Ada yang berpendapat kalau menteri itu sama sekali tidak usah dari partai, tapi di sisi lain presiden perlu mengemban hubungan dengan parpol. Menurut saya, perlu ada niat partai untuk kirimkan yang terbaik. Kalau ke kabinet, jadi jangan orang yang terdekat dengan pimpinan, tapi kirimkan yang terbaik yang menguasai bidangnya.

Menurut saya, mix ya, tidak bisa kita menilai satu-persatu tiap orang. Dalam benak saya, kalaupun mereka itu ditugaskan, selama perintah-perintah itu jelas, ukurannya jelas, seharusnya bisa baik.

Sebenarnya Pak SBY itu, dari sisi pribadi [tidak masalah]. Do you know SBY kalau berangkat ke kantor jam berapa? Jam 05.00 pagi sudah berangkat dia. Kalau jam segitu sudah berangkat, bisa Anda bayangkan jam berapa dia harus siap-siap. Jadi dari diri beliau sudah ada kesadaran.

Bayangkan Anda mimpin negara, berangkatnya jam 5 pagi, artinya disiplin, serius. Kalau mau bisa saja ambil gampangnya naik helikopter jam 9 pagi, tapi gak kan?

Saya melihat beliau punya kemauan baik untuk melakukan sesuatu, coba tambahkan dengan melakukan terobosan-terobosan yang sederhana saja.

Menurut saya, pemimpin di era demokrasi itu agak berbeda dengan pemimpin di era tradisional lama. Kalau di Amerika itu, pekerjaan presidennya itu telefon, persuasi dan negosiasi. Jadi diskusi, buka menunggu orang-orang untuk laporan. Communicate. Dan itu akan membuat mengelola Jakarta itu jauh lebih mudah, karena elite di Jakarta ini harus diperlakukan sejajar.

Tapi dia ini kan sudah 5 tahun, seharusnya SBY ‘khatam’ untuk urusan seperti ini?

Iya. Karena itulah kenapa saya putuskan untuk menulis, karena menurut saya sudah waktunya diingatkan. Jadi saya ini melihat modal yang dimiliki oleh Presiden ini luar biasa.

Banyak hal besar yang bisa beliau lakukan, dan Indonesia ini akan merasa diuntungkan karena kita belum pernah punya presiden era kedua dan dipilih oleh begitu banyak orang. Luar biasa. Karena itu, menurut saya ini harus diselesaikan, buat terobosan-terobosan secepatnya.

Kita tahu dalam jangka panjang, Indonesia akan mengalami surplus demografi, dividen demografi. Sekarang anak-anak muda kita banyak. Hari ini anak usia di bawah 39 kalau tidak salah 136 juta orang.

Jadi populasi kita itu sangat muda. Tapi populasi muda ini menjadi bernilai jika terdidik. Apalah artinya populasi besar kalau tidak terdidik. Karena itu kita butuh terobosan-terobosan cepat untuk bidang pendidikan, misalnya.

Kalau terobosan kita ini tidak jalan, tidak hari ini kita merasakan masalahnya, kita merasakan masalahnya besok, 10 tahun, 15 tahun yang akan datang.

Kita punya SD 144.000, SMP 36.000, langsung kita tahu gap-nya. SMA kita punya belasan ribu, dari angka-angka itu sudah menunjukkan trouble. Kan kita ingin anak-anak kita itu sekolah minimal SMP, harapannya lebih baik kalau bisa SMA. Kalau kita genjot infrastruktur pendidikan, ditambah dengan kualitasnya, tentu sudah mengantisipasi tuh ke depan.

Banyak hal-hal yang perlu kita antisipasi secara cepat. Sistem logistik misalnya, jeruk kita, jeruk Lampung itu kalah dengan jeruk China yang harganya lebih murah. Kenapa? Karena infrastruktur kita tidak bagus.

Hal-hal begini, yang memerlukan terobosan. Ibu meninggal karena melahirkan itu 30 per 10.000 kelahiran, bukan karena minimnya fasilitas kesehatan, tetapi karena tidak bisa sampai ke fasilitas kesehatan, jadi karena tidak ada kendaraan dari tempat dia tinggal ke fasilitas kesehatan.

Pewawancara: Bunga Dewi Kusuma, Algooth Putranto, Sutan Eries Adlin

Pos ini dipublikasikan di Cermin. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s