Kejujuran (Baharuddin) Lopa

Kompas, Senin, 02 Jan 2012.

oleh : ABUN SANDA

 

Lebih kurang 28 tahun silam, tatkala mendiang Prof.DR. Baharuddin Lopa masih menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, panggung hukum Indonesia geger oleh munculnya sosok Lopa yang jujur, antikorupsi, dan nyali bak harimau. Ia tidak kenal warna abu-abu, sebab bagi dia warna hanya putih dan hitam. Benar atau salah.

Ada banyak cerita tentang kejujuran mantan Jaksa Agung (2001) dan mantan Menteri Kehakiman (2001) ini. Ketika Lebaran menjelang, ia tegaskan kepada anak buahnya untuk tidak menerima parsel Lebaran. Ia menggelar jumpa pers yang diantaranya mengumumkan, seluruh aparat Kejaksaan Sulawesi Selatan tidak terima hadiah dalam bentuk apapun.

Ketika tiba di rumah, ia melihat ada 2 parsel di rumahnya. ” Eh…, siapa yang kirim parsel ke sini,” ucap Lopa dalam raut muka masam.  Seisi rumah bungkam karena tahu Lopa geram. Lopa kemudian sangat terkejut ketika melihat salah satu parsel tersingkap 10 cm. ” Aduh…, siapa yang membuka parsel ini?”

Seorang putrinya maju ke depan dan dengan jujur menyatakan dialah yang membuka parsel dan mengambil sebuah coklat. ” Mohon maaf Ayah,” ujar anak perempuan itu. Lopa menghela nafas, ia tidak bisa marah kepada putrinya, tetapi tidak urung ia memperingatkan untuk tidak melakukan hal itu lagi. Pria (Kab.) Mandar ini menyuruh putranya membeli coklat dengan ukuran dan jenis yang sama. Coklat itu dimasukkan ke dalam bungkusan parsel dan segera dikembalikan kepada pengirimnya.

Suatu hari ia bercakap-cakap dengan istrinya dan mengajak istrinya menghitung (uang) tabungan mereka. ” Oh, uang ini sudah cukup untuk (membayar) uang muka mobil Toyota Kijang,” ujar Lopa.

Maka datanglah ia ke distributor mobil di Makassar.  Ia langsung menemui direktur utama perusahaan itu. Lopa menyampaikan keinginannya membeli mobil dengan uang muka sekian Rupiah, sisanya dicicil. Sang Dirut menawarkan diskon yang biasa ia berikan kepada kawan-kawannya. Lopa terkejut dengan besaran diskonnya. Sebab bagi Lopa diskon lebih dari 3% dari harga barang sudah melampaui batas kepantasan. Saudagar itu menyatakan, ” Saya penjual, saya hendak beri berapa persen diskonnya, khan, terserah saya, bukankah itu wilayah saya?”

Lopa tetap menolak dan menyatakan diskon hanya 3%. Akhirnya usahawan (pengusaha) itu mengalah, dan menerima keinginan Lopa. Belakangan urusan tersebut membuat usahawan itu kikuk karena (ternyata) setiap bulan Lopa datang sendiri menyetor cicilannya. Dan penyetoran itu jauh sebelum jatuh tempo. Bukan apa-apa, Lopa adalah temannya (si usahawan tersebut), ia kikuk harus menerima cicilan mobil langsung setiap bulan selama bertahun-tahun dari teman dekatnya itu ( seorang Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan saat itu).

Akan tetapi usahawan itu menghormati Lopa yang memegang teguh prinsip hukum yang “serba hitam putih” itu.

Cerita tentang Lopa yang jujur menjadi semacam legenda di panggung hukum nasional. Suatu hari, Lopa hendak (berniat) menunaikan ibadah haji. Seorang teman sekolahnya sejak SD hingga perguruan tinggi yang sukses sebagai pengusaha, memberinya (uang) US $ 10,000. Lopa terkejut dengan pemberian ini. Pada kesempatan pertama ia datang ke rumah temannya, dan mengembalikan uang itu. Lopa berkata, “Saya tahu engkau ikhlas, akhlakmu pun terpuji. Saya tahu pula usahamu berjalan di jalur lurus. Namun, maafkan saya, saya tidak bisa menerima uang ini. Kita bersahabat saja, ya ”

Pengusaha (yg juga sahabatnya) itu tidak bisa berkata apa-apa kecuali mengusap air matanya karena terharu.

Baharuddin Lopa mengungkapkan, seorang penegak hukum mutlak berintegritas (=jujur). Ia boleh hidup ekstra sederhana, tetapi ia tidak bisa menjadi alasan meneriman apapun dari siapapun. ” Banyak di antara masyarakat tidak menyadari, tegaknya hukum (juga berdampak) menentukan kinerja ekonomi. Sebab, munculnya supremasi hukum akan membuat pelaku bisnis tenang karena ada (kepastian) hukum. Jaksa akan menjalankan tugasnya dengan baik dan hakim akan menjatuhkan vonis yang sesuai dengan hukum dan rasa keadilan.”

Lopa benar. Lihatlah, semua negara yang ekonominya maju, praktik hukumnya (relatif) pasti baik. Kita masih jauh dari pelaksanaan hukum yang ideal. Hukum masih dipermainkan kekuasaan, mafia peradilan, dan aparat yang tidak jujur.

Betapa kita tidak pening oleh demikian banyak aparat penegak hukum sendiri yang ditahan, diadili, dan kemudian dipenjarakan karena terbukti melawan hukum. Bagaimana pula negeri ini bisa dipercaya pelaku ekonomi dan para investor dalam negeri kalau demikian banyak pejabat negara menjadi terdakwa.

Mereka tidak sadar, perbuatannya menahan laju pertumbuhan ekonomi. Mereka tidak paham bahwa tegaknya hukum sama dengan mulusnya perekonomian.

Sederhananya seperti ini. Apakah ada pedagang yang berani memalsukan merk kalau hukum menjadi panglimanya. Adakah pebisnis yang mengelak (mengemplang) membayar pajak? Apatah ada pelaku ekonomi berani memalsukan akta tanah?

(wallohualam bissawab. Semoga Allah SWT mengampuni seluruh dosa-dosa almarhum, menerima amal bhaktinya, menjaugkannya dari siksa kubur, dan diberikan tempat yang layak di sisi-Nya).

 

Pos ini dipublikasikan di Cermin. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kejujuran (Baharuddin) Lopa

  1. rudin berkata:

    bagus ceritanya, moga menjadi cermin hidup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s