Se(x) and The CEO

 Posted on October 1, 2010 by Daniel Hadinata Saputro.

( Majalah SWAsembada )

Skandal apa yang merebut perhatian banyak CEO saat ini? Pastinya bukan hanya skandal tiga selebriti Indonesia yang menghadapi masalah video seks. Bagi pebisnis beraliran “In Search of Excellence”, kasus seks yang menimpa Mark Hurd, CEO Hewlett-Packard, sangat layak dicermati dan jadi bahan pelajaran. Mengapa?

Semua pebisnis juga tahu bahwa Hurd adalah CEO yang bertangan dingin dan brilian. Bertanda dingin karena kebijakan cost cutting-nya yang merumahkan 15.200 karyawan. Brilian karena sejak menggantikan Carly Fiorina yang gagal pada 2005, Hurd membanjiri HP dengan laba yang meningkat berlipat-lipat. Pendapatan HP pada 2009 mencapai US$ 115 miliar (Rp 1,035 triliun). HP menjadi perusahaan komputer No. 1 di dunia mengalahkan Dell Computer. Di bawah kepemimpinannya, pangsa pasar inkjet dan printer naik 46% dan 50,5% di 2008. Konon Hurd selalu bangun setiap hari pukul 4.45 pagi waktu California agar tak ketinggalan bekerja dari pesaingnya. Tak mengherankan, Hurd dinobatkan menjadi TopGun CEOs oleh Brendan Wood International. Hurd bagaikan dua sisi uang logam, ia disenangi investor, tetapi dibenci karyawan yang di-PHK-kan.

Namun karena kerikil kecil, Hurd terempas dari posisinya. Akibat pelecehan seksual, Hurd (dipaksa?) mundur dari jabatannya, Jumat, 6 Agustus 2010. Sebenarnya Hurd tidak sendirian. Skandal seks juga terjadi pada CEO lainnya. Si raksasa biru IBM mengalaminya saat Robert Moffat, mantan wakil presiden senior, terjebak kasus insider trading di 2009. Moffat menyampaikan informasi rahasia kepada Danielle Chiesi, wanita yang diduga memiliki hubungan intim dengannya. CEO Savvis Communications Corp. Robert McCormick tersangkut kasus kartu kredit perusahaan sebesar US$ 241.000, yang digunakannya untuk bersenang-senang di klub striptis dengan tiga wanita. Mark W. Everson digulingkan dari posisinya sebagai CEO Palang Merah AS pada 2007 karena terlibat perselingkuhan dengan bawahannya. Steven Heyer terjungkal dari posisi Kepala Eksekutif Starwood Hotels & Resort pada 2007. Diduga keras Heyer melakukan hubungan tak pantas dengan seorang karyawati di luar kamar mandi restoran.

Hal apa yang membuat CEO kelas wahid ini menyabotase kesuksesan mereka sendiri?

Dalam buku Why CEOs Fail, David L. Dotlich dan Peter C. Cairo menyebutkan ada 11 perilaku CEO yang dapat menyebabkan mereka terjungkal dari posisinya. Salah satu kebiasaan merusak yang paling menonjol sehingga terjadi skandal seks ini adalah: MischievousnessCEO percaya bahwa rules are made to be broken.

Banyak CEO yang mendiskriminasikan dirinya sendiri. Peraturan hanya buat karyawan, tidak berlaku bagi dirinya. Karyawan disuruh menjiwai nilai-nilai perusahaan, tetapi CEO boleh melanggarnya. Nilai-nilai apa yang paling sering digunakan perusahaan? Honesty, integrity, commitment, transparency, accountability dan trust. Apakah sang CEO juga mematuhi nilai-nilai ini? Kenyataannya, apa yang CEO katakan bukanlah yang benar-benar CEO percaya dan lakukan.

Di satu sisi, posisi CEO memang meninabobokkan. Posisi ini menjanjikan gaji besar, fasilitas dan kenyamanan. Namun, di sisi lain CEO juga dituntut memberikan teladan yang ”sempurna” kepada bawahan. Banyak yang tergelincir, lupa menyatukan ucapan dengan perbuatan. Manajemen puncak dan CEO sering berteriak-teriak kepada karyawannya agar mengurangi biaya yang tak perlu. Namun, tiba-tiba karyawan melihat sang CEO naik mobil supermewah terbaru. Sang CEO berkali-kali menyuarakan agar karyawan mengetatkan ikat pinggang karena perusahaan sedang susah. Namun, karyawan melihat sang CEO selalu makan siang di hotel berbintang 5. Does it sound familiar ?

Aktivitas seks memang masuk ranah pribadi. Seks sejatinya adalah innate needs – jadi merupakan kebutuhan dasar manusia. Abraham Maslow juga memasukkan seks dalam hierarchy of needs. Walau ini persoalan yang sangat manusiawi, bukan berarti dapat diumbar begitu saja. Kasus-kasus di atas menunjukkan adanya korelasi yang kuat antara kegiatan seks yang ditutup-tutupi dan penyalahgunaan jabatan, wewenang, juga uang perusahaan. Tidak hanya itu. Jika sudah menyangkut hubungan affair antara atasan dan bawahan, masalahnya sudah masuk ke wilayah integritas, profesionalisme, trust dan pengambilan keputusan. Efeknya? Akan muncul rumor dan keresahan di antara karyawan.

Lihat saja skandal Presiden Bank Dunia Paul Wolfowitz. Ia memberi keistimewaan kepada Shaha Riza, yang awalnya bekerja di Bank Dunia. Karena hubungan “khusus”- nya, Riza dipindahkan ke departemen pemerintahan AS. Hebatnya, Riza dengan cepat mendapat promosi dengan paket gaji sebesar US$ 200.000, US$ 700 dolar lebih tinggi ketimbang paket gaji Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice! Masalah lainnya, Riza masih tetap dapat gaji dari Bank Dunia! Financial Times mengungkapkan, Wolfowitz secara pribadi telah memerintahkan untuk menaikkan pembayaran dalam jumlah besar buat Riza. Tentunya, keputusan Wolfowitz menganak-emaskan Riza membuat karyawan lain marah, putus asa dan prihatin. Jika ini terjadi di perusahaan Anda, dijamin ujung-ujungnya produktivitas karyawan akan menurun karena mereka telah terdemotivasi oleh perilaku diskriminatif ini.

Saat seks mulai masuk dalam pengambilan keputusan, pikiran jernih sang CEO biasanya langsung terkontaminasi. HP yang terkenal sangat menjunjung tinggi kejujuran, kepercayaan dan integritas tentunya sangat terpukul oleh tindak-tanduk Hurd. Hurd – yang telah menikah – bermain api dengan Jodie Fisher yang dikontrak HP untuk menangani bidang pemasaran. Hurd berulang kali menutupi sejumlah pengeluaran agar hubungannya tak terungkap. Ada pembiayan yang dibesar-besarkan untuk perjalanan, penginapan dan makan di mana masing-masing bernilai US$ 1.000 (Rp 9,1 juta) hingga US$ 20 ribu (Rp 182 juta). Fisher juga dikabarkan menerima reimbursement tanpa melalui aturan seharusnya. Tentu perusahaan dirugikan karenanya.

Apa efek negatif lainnya pada perusahaan? Karena perbuatan CEO merefleksikan citra perusahaan, citra perusahaan dapat menjadi negatif di mata investor. Komunikasi eksternal yang dilakukan Hurd membuat saham HP terjun 9% saat perdagangan baru dibuka satu jam. Walaupun mendapat pesangon US$ 12 juta (Rp 108 miliar) dan ribuan saham HP, sebenarnya Hurd bukan hanya kehilangan takhta dan gaji, tetapi juga kehilangan kepercayaan. Kepercayaan yang tak dapat dinilai dengan uang semata.

Lessons to learn. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Ini memang pepatah lama, tetapi tak lekang oleh zaman. Semakin tinggi suatu posisi, tentu tantangannya juga makin besar. Kata orang, kekuasan dapat memberikan kenikmatan. Namun, jika jatuh, juga akan lebih sakit karena posisinya sudah tinggi. Berhati-hatilah dalam menjaga nilai-nilai dan kredo perusahaan. Jagalah jarak hubungan pribadi dengan bawahan, termasuk kolega bisnis.

Dengan menyadari adanya perilaku yang bisa merusak ini, semoga para CEO dapat lebih sadar diri dan bisa menghindari kesalahan yang sama. Keledai saja tidak jatuh ke lubang yang sama dua kali. Jangan menyabotase kesuksesan Anda sendiri…yang Anda bangun dengan keringat dan air mata.

*) Penulis adalah Corporate Advisor dan pengajar Managing the Market di Pascasarjana London School of Public Relations.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s