Analisis Proses Tender Minyak Sawit (CPO) di Kantor Pemasaran Bersama (KPB) PT. Perkebunan Nusantara.

Komoditi perkebunan merupakan salah satu andalan perekonomian Indonesia, karena merupakan penghasil devisa tetap. Salah satu komoditi primer dalam bidang perkebunan adalah Kelapa Sawit yang menghasilkan minyak sawit atau Crude Palm Oil (CPO) dan memegang peranan strategis dalam perekonomian Indonesia. Pada saat ini peran industri CPO sebagai sumber pendapatan, lapangan kerja dan sumber devisa cukup subtansial. Indonesia merupakan negara penghasil komoditas CPO nomor dua di dunia setelah Malaysia.

Produksi CPO Indonesia dihasilkan oleh Perkebunan Rakyat, Perkebunan Negara dan Perkebunan Swasta. Perkebunan Negara yang menghasilkan CPO terdiri dari PT Perkebunan Nusantara I-XIV. Dalam pemasarannya, PT Perkebunan Nusantara I-XIV membentuk suatu perusahaan yang dikenal dengan nama Kantor Pemasaran Bersama yang kantor pusatnya berlokasi di .jalan Cut Mutiah nomor 11 Jakarta. Tujuan dari pembentukkan Kantor Pemasaran Bersama ini adalah agar bargaining power PT Perkebunan Nusantara I-XIV terhadap pembeli semakin kuat karena bersatu dalam menghadapi pasar dan tidak terpecah-pecah di daerah-daerah, sehingga daya saing komoditi akan semakin kuat. Dasar hukum pendirian Kantor Pemasaran Bersama adalah Surat Keputusan Menteri Pertanian nomor 166/kpts/OT.210/3/1990 tanggal 26 Februari 1990.

Dalam pelaksanaan operasionalnya KPB Jakarta menggunakan sistem tender (lelang terbuka), dimana para peserta tender melakukan penawaran bertingkat secara terbuka. Peserta tender merupakan processor yang sudah terdaftar di KPB Jakarta. Pemenang tender adalah peserta yang memberikan harga/penawaran tertinggi serta memberikan penawaran di atas price idea yang telah ditetapkan oleh panitia tender yang terdiri dari Kepala Divisi Sawit dan Nyiur KPB Jakarta dan wakil-wakil dari PT Perkebunan Nusantara, sebelum tender dilaksanakan. Adanya berbagai faktor dapat mempengaruhi harga tender dan volume tender yang terjadi di KPB Jakarta.

Berdasarkan hal-hal di atas, maka masalah penelitian dirumuskan sebagai berikut : (1) Bagaimana pelaksanaan tender CPO di KPB Jakarta; (2) Bagaimana pengaruh dominasi beberapa processor besar terhadap penjualan CPO dalam pelaksanaan tender di KPB Jakarta; serta (3) Bagaimana pengaruh berbagai faktor terhadap harga dan volume CPO dalam tender di KPB Jakarta.

Tujuan penelitian di KPB Jakarta ini adalah untuk: (1) Menganalisis sistem tender CPO yang dilaksanakan oleh KPB Jakarta; (2) Menganalisis keterkaitan antara fluktuasi harga CPO dalam tender dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya; (3) Menganalisis keterkaitan antara volume tender dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya; serta (4) Memberikan alternatif kebijakan pemasaran CPO di KPB Jakarta.

Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan melakukan analisis secara kualitatif dan kuantitatif melalui pendekatan studi kasus. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari observasi langsung ke KPB Jakarta serta mengadakan wawancara dengan pimpinan dan staf KPB Jakarta (4 orang), serta peserta tender (15 perusahaan). Data sekunder diperoleh dari informasi historis di KPB Jakarta, instansi terkait seperti Direktorat Jenderal Perkebunan, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Bank Indonesia, dan Badan Pusat Statistik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tender CPO domestik dilaksanakan setiap hari Selasa pukul 15.00 WIB sampai dengan selesai, dihadiri oleh Direktur Pelaksana KPB dan Staf PT Perkebunan Nusantara, peserta tender, serta peninjau atas izin panitia tender. Bentuk pasar tender di KPB adalah tender/lelang Inggris, dimana penawaran oleh peserta tender terhadap produk CPO akan meningkatkan harga patokan (price idea) sampai tercapainya harga tertinggi. Analisis kualitatif menunjukkan bahwa sebagian besar peserta tender telah merasa puas terhadap pelaksanaan tender yang ada. Para peserta tender juga mengharapkan antara lain: pengurusan faktur pajak setelah transaksi mohon dipercepat; tender diharapkan dapat dilakukan dua kali seminggu; serta informasi tender mohon lebih dipercepat. Sruktur pasar pada pelaksanaan tender cenderung mendekati pasar bersaing (kompetitif). Hal ini dicirikan dengan terdapatnya penjual dan banyak pembeli dengan produk yang standar, adanya informasi antara penjual dan pembeli, setiap pembeli dan penjual adalah penerima harga dan produk yang dijual mempunyai kualitas yang seragam.

Terdapat fluktuasi harga tender CPO periode Juli 1999 sampai dengan Januari 2001. Harga tertinggi (Rp 16,22,-/kg) terjadi pada bulan September 1999, sedang harga terendah (Rp 8,39,-/kg) terjadi pada bulan Desember 2000. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa harga tender dipengaruhi secara sangat signifikan pada taraf nyata 95 % oleh harga domestik; signifikan pada taraf nyata 90 % oleh demand, signifikan pada taraf nyata 90 % oleh jumlah peserta tender, dan signifikan pada taraf nyata 90 % oleh harga tender pada bulan sebelumnya. Pengaruh variabel harga domestik, demand, dan jumlah peserta tender arahnya positif yang berarti bahwa jika harga domestik meningkat satu satuan rupiah per kilogram maka harga tender meningkat Rp 0,9079,-per kilogram; jika demand meningkat satu ton maka harga tender meningkat Rp 0,00000635,-per kilogram; jika jumlah peserta tender meningkat satu perusahaan maka harga tender meningkat Rp 0,06365,-per kilogram. Sedangkan pengaruh harga tender pada bulan sebelumnya mempunyai arah negatif, yang berarti bahwa jika harga tender pada bulan sebelumnya meningkat satu satuan rupiah per kilogram maka harga tender meningkat Rp 0, 05655,- per kilogram.

Terdapat fluktuasi volume tender CPO periode Juli 1999 – Januari 2001. Volume tertinggi (74.000 ton) terjadi pada bulan Agustus 1999, sedang volume terendah (12.500 ton) terjadi pada bulan Desember 2000. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa volume tender dipengaruhi secara sangat signifikan pada taraf nyata 95 % oleh jumlah CPO yang ditawarkan. Pengaruh variabel jumlah yang ditawarkan tersebut arahnya positif yang berarti bahwa jika jumlah yang ditawarkan meningkat satu satuan ton maka volume tender meningkat 0,6284 ton.

Beberapa alternatif kebijakan pemasaran dalam rangka meningkatkan daya saing KPB Jakarta dalam memasarkan produk CPO adalah : (1) Memberikan informasi mengenai pelaksanaan tender baik berupa surat maupun facsimile lebih cepat kepada peserta tender dan menambah jumlah peserta tender sehingga posisi tawar KPB Jakarta bertambah kuat. Hal ini dapat dilakukan dengan mendata kembali processor yang ada di Indonesia, yang terdaftar di KPB Jakarta dan yang pernah mengikuti tender; (2) Meningkatkan kuantitas dan kualitas CPO yang ditenderkan sehingga para processor lebih banyak yang tertarik untuk ikut memberikan penawaran; (3) Untuk meningkatkan volume tender yang terjadi di KPB harus memperhatikan faktor yang berpengaruh signifikan yaitu jumlah CPO yang ditawarkan PT Perkebunan Nusantara I-XIV melalui tender di KPB Jakarta.

Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa secara umum pelaksanaan dan sistem tender di KPB Jakarta sudah dilakukan dengan baik dan transparan, mulai dari pengumuman produk CPO yang akan ditenderkan sampai dengan penentuan pemenang tender. Hasil analisis regresi menggunakan minitab for windows dengan menggunakan harga tender sebagai variabel dependen dan variabel harga internasional, harga domestik, kurs mata uang rupiah terhadap dollar, supply, demand, jumlah peserta, harga tender bulan sebelumnya dan ekspor Indonesia sebagai variabel independen menunjukkan nilai R-square 99,2 % dan nilai R-square (adj) 98,6 %, yang berarti bahwa 98,6 % variasi dalam variabel dependen (Y) dapat dijelaskan oleh variasi dalam variabel independen (X) yang dimasukkan dalam model pada persamaan regresi harga tender. Variabel independen harga domestik, demand jumlah peserta tender dan harga trender pada bulan sebelumnya berpengaruh secara signifikan terhadap harga tender.

Hasil analisis regresi dengan menggunakan volume tender sebagai variabel dependen dan harga tender bulan sebelumnya, jumlah CPO yang ditawarkan, harga internasional, kurs mata uang rupiah terhadap dollar dan dummy sifat musiman (seasonality) sebagai variabel independen menunjukkan nilai R-square 67,6 % dan nilai R-square (adj) 58,6 %, yang berarti bahwa 58,6 % variasi dalam variabel dependen (Y) dapat dijelaskan oleh variasi dalam variabel independen (X) yang dimasukkan dalam model pada persamaan regresi volume tender. Variabel independen jumlah yang ditawarkan berpengaruh secara signifikan terhadap volume tender.

Untuk meningkatkan daya saing KPB Jakarta dalam memasarkan CPO melalui tender, disarankan agar KPB Jakarta melakukan pendataan kembali processor yang ada di Indonesia, processor yang terdaftar di KPB dan processor yang mengikuti tender; mempercepat informasi mengenai pelaksanaan tender kepada para peserta; serta meningkatkan kualitas CPO yang ditawarkan.
Deskripsi Alternatif :

An Analysis of the Tender CPO Process at The Joint Office of Marketing (KPB)PT Perkebunan Nusantara Jakarta

Yarnis Alisyahbana

The objective of the research in the KPB Jakarta were: (1) To analyze the tender of CPO system carried out by KPB Jakarta; (2) To analyze a relationship between the fluctuation of the price CPO on tender and the factors responsible to them; (3) To analyze a relationship bertween the volume of tender and the factors responsible to them; and (4) To give an alternative to the marketing policy of CPO at KPB Jakarta. The research was used a descriptive method with qualitative and quantitative analysis through a case of study approach. The datas were classified into primary and secondary datas.

As a results, it was shown that almost all of the tender participant have been satisfied to the process of the tender CPO in the KPB Jakarta. Market structure on the tender was tend to be a competitive market (competitive with). The regression analysis shown that the tender price have been very significant affected at the level of 95 % by domestic price; significantly at the level of 90 % by demand, the number of participant, and the price of tender before, with the value of R-Square (adj) 98,6 %. However, the volume of tender have been very significant affected at the level of 95 % by the number of CPO offered, with the value of R-Square (adj) 58,6 %. Some alternatives of policies for marketing at KPB Jakarta are : (1) To give a faster information of tender to the participant, by a letter or facsimilie, and to strong the possition of bargaining could be done by increasing the number of tender participant. To increase the number of participant could be done by making a new registration for the all processors in Indonesia which have been listed and participated on tender at the KPB Jakarta; (2) To make the processor interest to participate on tender could be done by increasing the quantity and the quality of CPO offered; and (3) To increase the tender volume at KPB could be done by seeing factor which have been affected significantly, namely: the number of CPO offered by PT Perkebunan Nusantara I-XIV through tender at the KPB Jakarta.

Copyrights : Copyright @ 2001 by Graduate Program of Management and Business – Bogor Agricultural University (MB IPB). Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Pos ini dipublikasikan di Economics, Kelapa Sawit. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s