Pengabdian Empat Tahun Terakhir, dan Harus Melanjutkan Jihad Demi Keluarga.

Pagi itu, mentari menyorot agak suram disepanjang perjalananku menuju ke tempat tujuan.
Tertutup tebalnya awan di ufuk tinggi. Akhirnya sampai jualah ke tempat tujuan.
Tempat tujuan di mana selama empat tahun terakhir ini menjadi asaku ke depan.
Tempat tujuan, yang lebih bermakna bila disebut tempat pengabdian.

Pengabdian kepada tanggung jawab keluarga, pengabdian terhadap tanggung jawab profesi.

Setiba di sana, disepanjang koridor yang kulalui, kulihat berjejer kemeriahan.

Ternyata, di ulang tahun ke sepuluh tempat pengabdianku, kemeriahan yang berjejer
dan berjejal di sana, menyambut pagi hatiku yang belum menerang.

Kulihat rangkaian bunga nan cantik menawan, kupandangi jejeran bingkai waktu (photo)
yang berjejer rapi, seolah mengajak kita merentang waktu, dari
masa silam sepuluh tahun yang lalu, ke masa kini yang sukses gemilang.

Tak terduga, tak ternyana, tempat pengabdianku sudah beranjak ke
ulang tahunnya yang ke sepuluh. Selamat Ulang Tahun RS.BMC yang ke -10.

Sungguh suatu karunia Ilahi, yang tidak terperi.

Dan, tak terduga pula, masa pengabdiannku telah beranjak menuju ke usia
empat tahun lebih. Dari Bulan Maret 2010 sampai dengan Mei 2014.

Sungguh suatu masa pengabdian yang relatif singkat, tetapi justru
dirasakan sangat panjang, ketika menjalani dan merawatnya.

Dirasakan sangat panjang, karena semakin lama, semakin tumbuh kuat
cinta yang melekat.

Semakin kuat rekaman-rekaman peristiwa yang terpatri di dada.
Semakin ingin merawat, menyirami, dan menjaganya supaya tumbuh
terus, dan tumbuh terus.
Namun demikian, tidak demikian halnya dengan kekagetanku
beberapa minggu yang lalu.

Beberapa waktu yang lalu di mana aku ternyata sudah merayakan
ulang tahunku yang ke-empat puluh. Sungguh karunia Allah
yang tidak terperi. (Tepat tanggal 21-April-2014).
Ulang tahun itu menyadarkanku, ternyata aku sudah tidak
muda lagi. Begitu dekatnya kesibukan dalam pengabdiannku,
ternyata usiaku telah menapak empat puluh tahun.

Ya Allah ya Robbii…

Tunjukilah JalanMu.

Izinkanlah aku berjuang demi anak istriku.
Sudah tidak boleh lagi terus berharap-berharap dan berharap.

Berharap akan datang di mana, penghargaan atas pekerjaanmu,
penghargaan atas hasil upayamu, benar-benar dihargai,
dan dihormati, tanpa ada prasangka dan dusta.

Saatnyalah melangkah ke depan, dengan lembaran yang baru.
Demi “jihad” bagi anak istrimu. Sudah tidak boleh lagi,
meraba-raba, dan berharap meng-iba.

Maka di hari ini, sayapun mengucapkan salam perpisahan kepada
tempat pengabdiannku.

Tempat pengabdianku yang selama empat tahun terakhir ini
selalu menghiasi mimpi dan asaku.

Jika selama ini aku baru hanya mampu berkata dan bertindak
sebatas angka dan grafik, yang mungkin bisa sulit mengena
dan dipahami oleh tempat pengabdiannku.

Maka, dikesempatan dan tempat ini, aku ingin
menitipkan pesan kepada tempat pengabdiannku.
Dalam balutan bahasa yang mungkin sesuai dengan lingkungan
Tempat Pengabdianku saat ini. Lingkungan yang Religius & Islamis.
Izinkan aku mengutip dari Kalam Suci Illahi.

ALQUR’AN DAN TERJEMAHANNYA
DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
PROYEK PENGADAAN KITAB SUCI AL QUR’AN
PELITA V/TAHUN I 1989/1990
DITERJEMAHKAN OLEH
YAYASAN PENYELENGGARA PENTERJEMAH AL QUR’AN
HAK PENTERJEMAH PADA DEPARTEMEN AGAMA RI-JAKARTA
DICETAK OLEH CV.SWAKARYA

QS:2 SURAH AL BAQARAH AYAT 282, YANG TERJEMAHANNYA :

” Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah
tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan,
hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang
penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar.
Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana
Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis
, dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakkan
(apa yg akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertaqwa
kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi
sedikitpun dari pada hutangnya.
Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya
atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu
mengimlakkannya, maka hendaklah walinya mengimlakkanya,
maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur.

Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari
orang lelaki diantaramu. Jika tak ada dua orang
lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang
perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya
jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya.

Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan)
apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu
menulis hutang itu, baik kecil maupun besar
sampai batas waktu membayarnya.
Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah
dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih
dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguannmu.
(Tulislah mu’amalah mu itu) kecuali jika
mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan
di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu
(jika) kamu tidak menuliskannya.
Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli;
dan janganlah penulis dan saksi saling sulit
menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian)
, maka hal itu sesungguhnya hal itu adalah
‘suatu kefasikan pada dirimu.
Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu
dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

( QS:2 Surah Al Baqarah ayat 282 : Terjemahan ).
Semoga Allah SWT senantiasa memberi Rahmat bagi
Kita Semua.

(Bogor, Senin 12-Mei-2014)

 

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s