“The idea of being shocked about bribery and racketeering at FIFA is like being shocked about jumping into a pool and finding yourself wet,” said Dave Zirin, sports editor at The Nation magazine.

Allegations of corruption at FIFA are nothing new to those who follow the international soccer organization. But what was surprising to some on Wednesday was the sense that someone somewhere was finally doing something substantial about them.

The U.S. Justice Department unsealed a 47-count indictment in federal court in Brooklyn that detailed charges against 14 people accused of racketeering, wire fraud and money laundering conspiracy.

The most serious are the racketeering charges, which allege that the officials turned soccer “into a criminal enterprise,” according to U.S. Attorney General Loretta Lynch, who spoke to reporters in New York. A conviction could command a sentence of up to 20 years.

“The idea of being shocked about bribery and racketeering at FIFA is like being shocked about jumping into a pool and finding yourself wet,” said Dave Zirin, sports editor at The Nation magazine.

“What makes this particularly different is the fact that this time it looks like the charges have real teeth. I mean, coming from the U.S. Department of Justice, that’s a first. That’s never happened before,” he said.

‘We are issuing FIFA a red card’

The complexity of the investigation Lynch described was evident by the federal officials accompanying her, including a U.S. attorney, FBI Director James Comey and Richard Weber, head of the IRS Criminal Investigation division.

“This really is the World Cup of fraud, and today we are issuing FIFA a red card,” Weber said.

FIFA officials are accused of taking bribes totaling more than $150 million and in return providing “lucrative media and marketing rights” to soccer tournaments as kickbacks over the past 24 years.

Why is the U.S. bringing down the hammer on FIFA?

“The defendants fostered a culture of corruption and greed that created an uneven playing field for the biggest sport in the world,” Comey said in a statement. “Undisclosed and illegal payments, kickbacks and bribes became a way of doing business at FIFA.”

The indictment “is the beginning of our work, not the end” of an effort to rid global soccer of corruption, said Kelly Currie, acting U.S. attorney for the Eastern District of New York.

After the news conference, Chris Eaton, former FIFA head of security, said that U.S. officials have done “something that no other police organization or other region has done so far on FIFA.”

“The fact is there’s been no jurisdiction that was able to take a report, or to take action, or to coordinate a global action such as the U.S. has done today,” he said. “We’re seeing for the first time a very powerful jurisdiction take action against a very powerful, opaque organization, FIFA.”

Stan Collymore, a former member of England’s national team, said it’s a good thing Washington got involved in FIFA’s business. He wasn’t the only one saying so.

| Meninggalkan komentar

Pengabdian Empat Tahun Terakhir, dan Harus Melanjutkan Jihad Demi Keluarga.

Pagi itu, mentari menyorot agak suram disepanjang perjalananku menuju ke tempat tujuan.
Tertutup tebalnya awan di ufuk tinggi. Akhirnya sampai jualah ke tempat tujuan.
Tempat tujuan di mana selama empat tahun terakhir ini menjadi asaku ke depan.
Tempat tujuan, yang lebih bermakna bila disebut tempat pengabdian.

Pengabdian kepada tanggung jawab keluarga, pengabdian terhadap tanggung jawab profesi.

Setiba di sana, disepanjang koridor yang kulalui, kulihat berjejer kemeriahan.

Ternyata, di ulang tahun ke sepuluh tempat pengabdianku, kemeriahan yang berjejer
dan berjejal di sana, menyambut pagi hatiku yang belum menerang.

Kulihat rangkaian bunga nan cantik menawan, kupandangi jejeran bingkai waktu (photo)
yang berjejer rapi, seolah mengajak kita merentang waktu, dari
masa silam sepuluh tahun yang lalu, ke masa kini yang sukses gemilang.

Tak terduga, tak ternyana, tempat pengabdianku sudah beranjak ke
ulang tahunnya yang ke sepuluh. Selamat Ulang Tahun RS.BMC yang ke -10.

Sungguh suatu karunia Ilahi, yang tidak terperi.

Dan, tak terduga pula, masa pengabdiannku telah beranjak menuju ke usia
empat tahun lebih. Dari Bulan Maret 2010 sampai dengan Mei 2014.

Sungguh suatu masa pengabdian yang relatif singkat, tetapi justru
dirasakan sangat panjang, ketika menjalani dan merawatnya.

Dirasakan sangat panjang, karena semakin lama, semakin tumbuh kuat
cinta yang melekat.

Semakin kuat rekaman-rekaman peristiwa yang terpatri di dada.
Semakin ingin merawat, menyirami, dan menjaganya supaya tumbuh
terus, dan tumbuh terus.
Namun demikian, tidak demikian halnya dengan kekagetanku
beberapa minggu yang lalu.

Beberapa waktu yang lalu di mana aku ternyata sudah merayakan
ulang tahunku yang ke-empat puluh. Sungguh karunia Allah
yang tidak terperi. (Tepat tanggal 21-April-2014).
Ulang tahun itu menyadarkanku, ternyata aku sudah tidak
muda lagi. Begitu dekatnya kesibukan dalam pengabdiannku,
ternyata usiaku telah menapak empat puluh tahun.

Ya Allah ya Robbii…

Tunjukilah JalanMu.

Izinkanlah aku berjuang demi anak istriku.
Sudah tidak boleh lagi terus berharap-berharap dan berharap.

Berharap akan datang di mana, penghargaan atas pekerjaanmu,
penghargaan atas hasil upayamu, benar-benar dihargai,
dan dihormati, tanpa ada prasangka dan dusta.

Saatnyalah melangkah ke depan, dengan lembaran yang baru.
Demi “jihad” bagi anak istrimu. Sudah tidak boleh lagi,
meraba-raba, dan berharap meng-iba.

Maka di hari ini, sayapun mengucapkan salam perpisahan kepada
tempat pengabdiannku.

Tempat pengabdianku yang selama empat tahun terakhir ini
selalu menghiasi mimpi dan asaku.

Jika selama ini aku baru hanya mampu berkata dan bertindak
sebatas angka dan grafik, yang mungkin bisa sulit mengena
dan dipahami oleh tempat pengabdiannku.

Maka, dikesempatan dan tempat ini, aku ingin
menitipkan pesan kepada tempat pengabdiannku.
Dalam balutan bahasa yang mungkin sesuai dengan lingkungan
Tempat Pengabdianku saat ini. Lingkungan yang Religius & Islamis.
Izinkan aku mengutip dari Kalam Suci Illahi.

ALQUR’AN DAN TERJEMAHANNYA
DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
PROYEK PENGADAAN KITAB SUCI AL QUR’AN
PELITA V/TAHUN I 1989/1990
DITERJEMAHKAN OLEH
YAYASAN PENYELENGGARA PENTERJEMAH AL QUR’AN
HAK PENTERJEMAH PADA DEPARTEMEN AGAMA RI-JAKARTA
DICETAK OLEH CV.SWAKARYA

QS:2 SURAH AL BAQARAH AYAT 282, YANG TERJEMAHANNYA :

” Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah
tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan,
hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang
penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar.
Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana
Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis
, dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakkan
(apa yg akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertaqwa
kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi
sedikitpun dari pada hutangnya.
Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya
atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu
mengimlakkannya, maka hendaklah walinya mengimlakkanya,
maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur.

Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari
orang lelaki diantaramu. Jika tak ada dua orang
lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang
perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya
jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya.

Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan)
apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu
menulis hutang itu, baik kecil maupun besar
sampai batas waktu membayarnya.
Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah
dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih
dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguannmu.
(Tulislah mu’amalah mu itu) kecuali jika
mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan
di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu
(jika) kamu tidak menuliskannya.
Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli;
dan janganlah penulis dan saksi saling sulit
menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian)
, maka hal itu sesungguhnya hal itu adalah
‘suatu kefasikan pada dirimu.
Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu
dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

( QS:2 Surah Al Baqarah ayat 282 : Terjemahan ).
Semoga Allah SWT senantiasa memberi Rahmat bagi
Kita Semua.

(Bogor, Senin 12-Mei-2014)

 

| Meninggalkan komentar

Trends in World Trade and Agricultural Trade

CONTENTS

1.1.  Recent trends in world trade

1.2.  Recent trends in agricultural trade

1.3.  Conclusions

 

KEY POINTS

* Trade mainly takes place between developed countries (negara maju), although developing countries (negara berkembang) increased their share of global trade in the 1970s and the 1990s. The share of least developed countries (negara tertinggal)  has fallen further in the past two decades.

* Agricultural trade, though increasing in absolute terms  and relative to agricultural production, is of declining importance in total trade.

* The role of transnational corporations  in trade has been growing, and they now account for an estimated of 40% of world trade.

* Prices of agricultural commodities have fallen, both in real terms and relative to the prices of manufactured goods. They are also highly volatile.

* The forthcoming WTO negotiations provide developing countries (negara berkembang) with an important opportunity to improve their market position, and to better capture the advantages of trade liberalization.

 

CONCLUSIONS

There has been a considerable increase in trade flows since the end of World War II. Today, around one-third ( 1/3 ) of world output is traded internationally. Technological breakthroughs in transportation and communication and international agreement leading to more liberal trade policies are some of the reasons behind this trend. Increased flows of commodities have been accompanied by the rapid growth of capital, and to a lesser extend, technology movements. Movement of labour have not followed the same trends, because because of increasing barriers to the free movement of workers.

Trade among developing countries (negara berkembang) remain rather small and represents only a minor share of total world trade although it has increased.

Although trade grew faster during the 1970’s and 1990’s in developing countries than in developed countries, the latter are responsible of the bulk of international exchange. Transnational corporations have been particularly active in world trade and their importance has grown. In 1998, they accounted for an estimated 40% of the exchanging taking place in the world.

Within this context of rapid growth of trade, agriculture has lagged behind ( telah tertinggal di belakang). Despite sustained growth of trade in agricultural commodities, the share of these commodities in world trade has been progressively reduced.  This evolution can be explained in part by the increasing proportion of products originating from agricultural that are being traded as processed food or manufactured products.  The fact that the Uruguay Round Agreement envisages lower tariff cuts in agriculture than in other sectors may reinforced this trend.

Developing countries produce a large proportion of the most actively traded agricultural commodities . For many developing countries, these commodities are the major source of foreign exchange.

Prices of agricultural commodities have dropped dramatically between 1980 and 1998, in contrast with the increase in the prices of manufactured goods. The term of trade between agricultural commodities and manufactured products fell by more than 50% over this period. This has also contributed to the relatively slower increase of trade in agricultural products compared to products produced by other sectors measured in value-terms. It has also meant that developing countries dependent on agricultural exports have had to increase their agricultural exports in order to buy the same amount of manufactured products.

Forthcoming negotiations under WTO ( World Trade Organization) are an important opportunity for developing countries to improve their market position in order to better capture the advantages of trade liberalization. For this, they will need to be well informed and well organized.

TEN LEADING EXPORTERS OF AGRICULTURAL PRODUCTS

( 1980, 1990, 1997 : WTO Annual Report 1998; International Trade Statistics )

01.  USA

02.  France

03.  Netherlands

04.  Canada

05.  Germany

06.  United Kingdom

07.  Australia

08.  Belgium-Luxemburg

09.  Brazil

10.  Italy

 

( Quoted from : Yon Fernandez de Larrinoa Arcal ; Materne Maetz ; Policy Assistance Division ; http://www.fao.org ).

 

 

 

| Meninggalkan komentar

Jokowi Di Mata Media Asing

Oleh Dikky Setiawan – Kamis, 26 September 2013 | 21:50 WIB |

Sumber The New York Times

( http://internasional.kontan.co.id/news/jokowi-di-mata-media-asing )

JAKARTA. Setiap hari, Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta melakukan sesuatu secara praktis yang jarang terdengar di kalangan elit politik Indonesia: Dia terjun ke jalan-jalan untuk berbicara langsung dengan warga yang memilihnya sebagai Gubernur DKI.

Sering kali, Joko dikerumuni banyak orang saat ia berkelana melintasi daerah kumuh, pasar tradisional dan lingkungan masyarakat kecil lainnya.

Masyarakat, baik wanita dan pria, mencoba untuk menyentuhnya ketika ia berada di lingkungan itu. Para kaum muda pun mengangkat tangan dan meletakkannya di dahi mereka, sebagai tanda hormat kepada Joko.

Berbagi keprihatinan dengan warga untuk mencari solusi bagaimana membenahi kota Jakarta, hal itulah yang mendorong Joko untuk terjun ke jalan-jalan.

Masyarakat, gurau Joko, tidak begitu banyak bersemangat untuk melihat dia. “Mereka mungkin hanya terkejut melihat seorang pemimpin di Indonesia keluar dari kantornya,” ujar Joko, suatu ketika.

“Orang-orang mengatakan itu ‘demokrasi jalanan’ karena saya datang kepada mereka. Saya menjelaskan program saya. Mereka juga bisa memberikan saya ide tentang program,” imbuh Joko, 52 tahun, yang para pendukungnya memanggilnya dengan sapaan akrab Jokowi.

Jokowi juga turun ke instansi pemerintahan daerah dan kantor pajak yang berada di bawah pengawasannya untuk melihat apakah sistem birokrasi di instansi itu efisien atau tidak.

Itulah rutinitas Jokowi sehari-hari yang menjadi alasannya untuk terjun ke jalan. Jokowi, yang merupakan mantan pengusaha furniture, setiap malam selalu menempati posisi puncak dalam jajak pendapat calon Presiden Indonesia di tahun depan.

Pada akhir Agustus 2013, koran harian paling berpengaruh di Indonesia, KOMPAS, menampilkan fotonya di halaman depan selama tiga hari berturut-turut.

Itu, seiring dengan hasil jajak pendapat yang menunjukkan Jokowi unggul hampir dua kali lipat dari penantang terdekatnya, seorang pensiunan jenderal Angkatan Darat.

Jajak pendapat KOMPAS juga menemukan fakta bahwa Jokowi telah mengungguli pemimpin partainya sendiri: mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, pemimpin partai “wong cilik” PDI Perjuangan (PDIP).

Karakter Jokowi

“Jokowi kebalikan dari pemimpin yang kami miliki saat ini. Karakter Jokowi tidak sama dengan semua pemimpin yang ada,” kata Bhimanto Suwastoyo, Pemimpin Redaksi Jakarta Globe Online.

“Karakter seorang pejabat Indonesia adalah melakukan apa yang dia inginkan, tidak ada hubungannya dengan masyarakat dan tidak berkonsultasi atas aturan yang dibuatnya,” imbuh Bhimanto.

Jokowi melakukan sebaliknya. Dia membuka tangan. Jokowi meminta masyarakat apa yang mereka inginkan. Dia mendekati mereka dan melihat dengan benar-benar untuk melakukan sesuatu.

Namun, apa yang telah dilakukan Jokowi di tahun pertamanya memimpin Ibukota, tidak terlalu tinggi kinerjanya. Bahkan, sejumlah kalangan memberikan poin terhadap sesuatu yang tidak dilakukan Jokowi.

Di negara penuh dengan korupsi, Jokowi secara luas dianggap sebagai politisi bersih yang belum menggunakan wewenangnya untuk memperkaya dirinya sendiri, dan telah bekerja keras untuk mengurangi korupsi di dalam tubuh pemerintahannya.

Isu korupsi pejabat diperkirakan menjadi faktor utama dalam pemilu 2014. Pemilihan presiden langsung ketiga sejak Indonesia melepaskan diri dari kekuasaan otokratis 15 tahun lalu.

Ekonomi Indonesia tumbuh dengan baik, bertahan dari krisis keuangan global tahun 2008. Perusahaan multinasional telah berbondong berinvestasi di negeri ini dan produk domestik bruto telah berkembang pada tingkat yang stabil lebih dari 6% selama tiga tahun terakhir.

Namun, para pengamat konsisten mengatakan, bahwa Indonesia berpotensi terpuruk kembali karena korupsi dan kolusi antara pejabat pemerintah, anggota parlemen dan kepentingan bisnis yang kuat.

Presiden Indonesia saat ini, Susilo Bambang Yudhoyono, menduduki kekuasaan pada tahun 2004 dan terpilih kembali pada tahun 2009 dengan slogannya yang antikorupsi. Namun, Partai Demokrat yang mengusungnya telah terperosok dalam skandal korupsi, selama dua tahun terakhir.

Dengan beberapa bulan lagi menjelang Pemilu 2014, apa pun bisa terjadi untuk menggagalkan peluang Jokowi menjadi Presiden Indonesia.

Menepati janji kampanye

Jenderal purnawirawan yang menduduki posisi kedua dalam jajak pendapat KOMPAS, Prabowo Subianto , memiliki peluang kuat berikutnya dan telah dianggap sebagai pesaing utama calon Presiden. Meskipun, tuduhan terhadap Prabowo atas pelanggaran hak asasi manusia di Timor Timur sangat meluas.

Prabowo dan Jokowi adalah anggota partai oposisi. Sementara Yudhoyono tidak bisa lagi mencalonkan diri karena batasan masa jabatan Presiden.

Sejak menjadi Gubernur Jakarta pada Oktober tahun lalu, Jokowi telah menepati janji-janji kampanyenya. Misalnya dalam menerapkan program kesejahteraan dengan menerbitkan kartu elektronik yang memungkinkan masyarakat tidak mampu mendapatkan perawatan kesehatan dan bantuan pendidikan secara langsung. Kartu elektronik ini juga memastikan pejabat pemerintah untuk tidak memangkas anggaran tersebut.

Dia juga menerapkan sistem pembayaran pajak secara online untuk mencegah korupsi dan membuat lompatan besar untuk mewujudkan mass rapid transit di Ibukota.

Dia telah menginvestasikan kerja keras dan modal politik pada dua proyek khususnya. Yang pertama adalah memindahkan pedagang kaki lima (PKL) dari jalan-jalan di sekitar kawasan Tanah Abang, pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara. PKL liar menyebabkan kemacetan lalu lintas di seluruh Jakarta Pusat. Jokowi memberi PKL ruang berdagang di dalam sebuah gedung di kawasan tersebut.

Yang kedua adalah relokasi 7.000 keluarga miskin di sekitar Waduk Pluit di Jakarta Utara. Jokowi membiayai perumahan rakyat, sehingga waduk dapat dikeruk untuk pertama kalinya dalam kurun 30 tahun untuk membantu meringankan banjir tahunan di Jakarta.

Proyek-proyek itu mungkin sangat jelas, mengingat banyak masalah mendesak dari kota berpenduduk 10 juta orang ini. Warga Jakarta memang memiliki dua masalah yang paling penting: kemacetan lalu lintas dan banjir .

Karena itu, untuk meraih dukungan masyarakat, Jokowi mengunjungi kedua kawasan tersebut (Tanah Abang dan Waduk Pluit) setidaknya sekali sehari.

Hal itu untuk memastikan bahwa pejabat kota menindaklanjuti proyek-proyek Jokowi dan untuk meyakinkan penduduk setempat bahwa ia tidak benar-benar berencana untuk mengalihkan lahan tersebut ke pengembang pusat perbelanjaan.

Keputusan di tangan Megawati

Biar bagaimana pun, Jokowi adalah orang biasa. Sebelum menjabat Walikota Surakarta pada tahun 2005, Jokowi hanyalah seorang tukang kayu dan menjalankan bisnis bisnis ekspor mebel di kota berpenduduk 520.000 jiwa yang dikenal dengan sebutan Kota Solo.

Pada 2012, Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta, memenangkan pertarungan melawan melawan calon incumbent, Fauzi Bowo, yang didukung oleh sebagian besar koalisi partai pengusung Yudhoyono.

Jokowi akhirnya tidak bisa memutuskan apakah ia akan mencalonkan diri dalam pemilihan Presiden Indonesia pada 2014. Megawati tegas mengontrol partai, yang akan memutuskan pada kongres terakhir bahwa dia sendiri yang akan menyebut siapa calon Presiden dari Partai PDIP.

Dia mengharapkan untuk mencalonkan dirinya sendiri. Namun, kalangan pengamat meyakini bahwa Megawati akan memberi jalan buat Jokowi untuk membantu partainya mencoba mendapatkan kembali kursi Presiden setelah 10 tahun lepas dari genggaman.

Pejabat partai mengatakan, Megawati telah mengisyaratkan dalam beberapa pekan terakhir, menyebut bahwa dirinya menua di usianya yang 66 tahun.

Namun, Megawati dan Jokowi kerap muncul berdampingan di acara-acara besar dalam beberapa pekan terakhir, mendorong spekulasi lebih lanjut tentang pencalonannya.

Jokowi di mata media asing

Oleh Dikky Setiawan – Kamis, 26 September 2013 | 21:50 WIB |

Sumber The New York Times

( http://internasional.kontan.co.id/news/jokowi-di-mata-media-asing )

JAKARTA. Setiap hari, Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta melakukan sesuatu secara praktis yang jarang terdengar di kalangan elit politik Indonesia: Dia terjun ke jalan-jalan untuk berbicara langsung dengan warga yang memilihnya sebagai Gubernur DKI.

Sering kali, Joko dikerumuni banyak orang saat ia berkelana melintasi daerah kumuh, pasar tradisional dan lingkungan masyarakat kecil lainnya.

Masyarakat, baik wanita dan pria, mencoba untuk menyentuhnya ketika ia berada di lingkungan itu. Para kaum muda pun mengangkat tangan dan meletakkannya di dahi mereka, sebagai tanda hormat kepada Joko.

Berbagi keprihatinan dengan warga untuk mencari solusi bagaimana membenahi kota Jakarta, hal itulah yang mendorong Joko untuk terjun ke jalan-jalan.

Masyarakat, gurau Joko, tidak begitu banyak bersemangat untuk melihat dia. “Mereka mungkin hanya terkejut melihat seorang pemimpin di Indonesia keluar dari kantornya,” ujar Joko, suatu ketika.

“Orang-orang mengatakan itu ‘demokrasi jalanan’ karena saya datang kepada mereka. Saya menjelaskan program saya. Mereka juga bisa memberikan saya ide tentang program,” imbuh Joko, 52 tahun, yang para pendukungnya memanggilnya dengan sapaan akrab Jokowi.

Jokowi juga turun ke instansi pemerintahan daerah dan kantor pajak yang berada di bawah pengawasannya untuk melihat apakah sistem birokrasi di instansi itu efisien atau tidak.

Itulah rutinitas Jokowi sehari-hari yang menjadi alasannya untuk terjun ke jalan. Jokowi, yang merupakan mantan pengusaha furniture, setiap malam selalu menempati posisi puncak dalam jajak pendapat calon Presiden Indonesia di tahun depan.

Pada akhir Agustus 2013, koran harian paling berpengaruh di Indonesia, KOMPAS, menampilkan fotonya di halaman depan selama tiga hari berturut-turut.

Itu, seiring dengan hasil jajak pendapat yang menunjukkan Jokowi unggul hampir dua kali lipat dari penantang terdekatnya, seorang pensiunan jenderal Angkatan Darat.

Jajak pendapat KOMPAS juga menemukan fakta bahwa Jokowi telah mengungguli pemimpin partainya sendiri: mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, pemimpin partai “wong cilik” PDI Perjuangan (PDIP).

Karakter Jokowi

“Jokowi kebalikan dari pemimpin yang kami miliki saat ini. Karakter Jokowi tidak sama dengan semua pemimpin yang ada,” kata Bhimanto Suwastoyo, Pemimpin Redaksi Jakarta Globe Online.

“Karakter seorang pejabat Indonesia adalah melakukan apa yang dia inginkan, tidak ada hubungannya dengan masyarakat dan tidak berkonsultasi atas aturan yang dibuatnya,” imbuh Bhimanto.

Jokowi melakukan sebaliknya. Dia membuka tangan. Jokowi meminta masyarakat apa yang mereka inginkan. Dia mendekati mereka dan melihat dengan benar-benar untuk melakukan sesuatu.

Namun, apa yang telah dilakukan Jokowi di tahun pertamanya memimpin Ibukota, tidak terlalu tinggi kinerjanya. Bahkan, sejumlah kalangan memberikan poin terhadap sesuatu yang tidak dilakukan Jokowi.

Di negara penuh dengan korupsi, Jokowi secara luas dianggap sebagai politisi bersih yang belum menggunakan wewenangnya untuk memperkaya dirinya sendiri, dan telah bekerja keras untuk mengurangi korupsi di dalam tubuh pemerintahannya.

Isu korupsi pejabat diperkirakan menjadi faktor utama dalam pemilu 2014. Pemilihan presiden langsung ketiga sejak Indonesia melepaskan diri dari kekuasaan otokratis 15 tahun lalu.

Ekonomi Indonesia tumbuh dengan baik, bertahan dari krisis keuangan global tahun 2008. Perusahaan multinasional telah berbondong berinvestasi di negeri ini dan produk domestik bruto telah berkembang pada tingkat yang stabil lebih dari 6% selama tiga tahun terakhir.

Namun, para pengamat konsisten mengatakan, bahwa Indonesia berpotensi terpuruk kembali karena korupsi dan kolusi antara pejabat pemerintah, anggota parlemen dan kepentingan bisnis yang kuat.

Presiden Indonesia saat ini, Susilo Bambang Yudhoyono, menduduki kekuasaan pada tahun 2004 dan terpilih kembali pada tahun 2009 dengan slogannya yang antikorupsi. Namun, Partai Demokrat yang mengusungnya telah terperosok dalam skandal korupsi, selama dua tahun terakhir.

Dengan beberapa bulan lagi menjelang Pemilu 2014, apa pun bisa terjadi untuk menggagalkan peluang Jokowi menjadi Presiden Indonesia.

Menepati janji kampanye

Jenderal purnawirawan yang menduduki posisi kedua dalam jajak pendapat KOMPAS, Prabowo Subianto , memiliki peluang kuat berikutnya dan telah dianggap sebagai pesaing utama calon Presiden. Meskipun, tuduhan terhadap Prabowo atas pelanggaran hak asasi manusia di Timor Timur sangat meluas.

Prabowo dan Jokowi adalah anggota partai oposisi. Sementara Yudhoyono tidak bisa lagi mencalonkan diri karena batasan masa jabatan Presiden.

Sejak menjadi Gubernur Jakarta pada Oktober tahun lalu, Jokowi telah menepati janji-janji kampanyenya. Misalnya dalam menerapkan program kesejahteraan dengan menerbitkan kartu elektronik yang memungkinkan masyarakat tidak mampu mendapatkan perawatan kesehatan dan bantuan pendidikan secara langsung. Kartu elektronik ini juga memastikan pejabat pemerintah untuk tidak memangkas anggaran tersebut.

Dia juga menerapkan sistem pembayaran pajak secara online untuk mencegah korupsi dan membuat lompatan besar untuk mewujudkan mass rapid transit di Ibukota.

Dia telah menginvestasikan kerja keras dan modal politik pada dua proyek khususnya. Yang pertama adalah memindahkan pedagang kaki lima (PKL) dari jalan-jalan di sekitar kawasan Tanah Abang, pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara. PKL liar menyebabkan kemacetan lalu lintas di seluruh Jakarta Pusat. Jokowi memberi PKL ruang berdagang di dalam sebuah gedung di kawasan tersebut.

Yang kedua adalah relokasi 7.000 keluarga miskin di sekitar Waduk Pluit di Jakarta Utara. Jokowi membiayai perumahan rakyat, sehingga waduk dapat dikeruk untuk pertama kalinya dalam kurun 30 tahun untuk membantu meringankan banjir tahunan di Jakarta.

Proyek-proyek itu mungkin sangat jelas, mengingat banyak masalah mendesak dari kota berpenduduk 10 juta orang ini. Warga Jakarta memang memiliki dua masalah yang paling penting: kemacetan lalu lintas dan banjir .

Karena itu, untuk meraih dukungan masyarakat, Jokowi mengunjungi kedua kawasan tersebut (Tanah Abang dan Waduk Pluit) setidaknya sekali sehari.

Hal itu untuk memastikan bahwa pejabat kota menindaklanjuti proyek-proyek Jokowi dan untuk meyakinkan penduduk setempat bahwa ia tidak benar-benar berencana untuk mengalihkan lahan tersebut ke pengembang pusat perbelanjaan.

Keputusan di tangan Megawati

Biar bagaimana pun, Jokowi adalah orang biasa. Sebelum menjabat Walikota Surakarta pada tahun 2005, Jokowi hanyalah seorang tukang kayu dan menjalankan bisnis bisnis ekspor mebel di kota berpenduduk 520.000 jiwa yang dikenal dengan sebutan Kota Solo.

Pada 2012, Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta, memenangkan pertarungan melawan melawan calon incumbent, Fauzi Bowo, yang didukung oleh sebagian besar koalisi partai pengusung Yudhoyono.

Jokowi akhirnya tidak bisa memutuskan apakah ia akan mencalonkan diri dalam pemilihan Presiden Indonesia pada 2014. Megawati tegas mengontrol partai, yang akan memutuskan pada kongres terakhir bahwa dia sendiri yang akan menyebut siapa calon Presiden dari Partai PDIP.

Dia mengharapkan untuk mencalonkan dirinya sendiri. Namun, kalangan pengamat meyakini bahwa Megawati akan memberi jalan buat Jokowi untuk membantu partainya mencoba mendapatkan kembali kursi Presiden setelah 10 tahun lepas dari genggaman.

Pejabat partai mengatakan, Megawati telah mengisyaratkan dalam beberapa pekan terakhir, menyebut bahwa dirinya menua di usianya yang 66 tahun.

Namun, Megawati dan Jokowi kerap muncul berdampingan di acara-acara besar dalam beberapa pekan terakhir, mendorong spekulasi lebih lanjut tentang pencalonannya.

| Meninggalkan komentar

Menyambut Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat 2013

Menyambut Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat 2013
Minggu 24 Februari 2013

Segenap warga Jawa Barat yang memiliki hak pilih kembali akan
melaksanakan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat 2013
yang akan dilaksanakan pada Minggu 24 Februari 2013, setelah yang
terakhir tahun 2008.

Adapun landasan hukumnya adalah UU RI No.32 Tahun 2004, sebagaimana
telah diubah dengan UU RI No. 12 Tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah,
, Pasal 56 ayat (1) menyebutkan :

Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dipilih dalam satu pasangan calon
yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan asas
langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.

Hal yang menarik adalah :

1. Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang memperoleh suara lebih
dari 50% (lima puluh persen) jumlah suara sah ditetapkan sebagai
pasangan calon terpilih;
2. Apabila tidak terpenuhi, pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala
daerah yang memperoleh suara lebih dari 30% (tiga puluh persen)
dari jumlah suara sah, pasangan calon yang perolehan suaranya
lebih besar dinyatakan sebagai pasangan calon terpilih;
3. Apabila tidak ada pasangan calon yang mencapai 30% dari jumlah suara sah,
maka dilakukan pemilihan putaran kedua yg diikuti pasangan calon
dengan perolehan suara urutan pertama dan kedua terbanyak.

Adapun jumlah pemilih terdaftar adalah 32.536.980 yang diundang
untuk mencoblos pada 74.948 Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Adapun cara pemberian suaranya adalah dengan cara mencoblos
pada nomor urut, atau foto, atau nama pasangan calon.
Ini harus diartikan bahwa suara sah bila mencoblos (menusuk)
dalam area kotak yang berisi foto, nama pasangan calon, dan nomor urut.
Sepanjang mencoblos satu lubang pada daerah di dalam kotak tersebut,
maka suara sah.

Karena saya pribadi kebetulan diundang dan diajak oleh ketua RW
di daerah rumah saya, untuk ikut berpartisipasi menjadi Panitia
KPPS ( Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara ) di Tempat Pemungutan
Suara (TPS) Nomor 10, dan kebetulan saya sedang tidak ada kesibukan
yang luar biasa di pekerjaan kantor saya, maka saya menyanggupinya.

Kami bertujuh orang di TPS 10, RW 09, Kelurahan Cilendek Barat,
Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, sudah dilantik oleh PPS Kelurahan
Cilendek Barat pada Minggu, 17 Februari 2013.
Kami juga sudah diberikan Formlir C6 (undangan untuk mencoblos) serta
Salinan DPT ( Daftar Pemilih Tetap) di wilayah TPS 10 kami.

Kemudian secara lisan, Panitia PPS Cilendek Barat mengumumkan
alokasi dana untuk keperluan TPS adalah Rp 500.000,- per TPS
( dipotong 2% PPh ). Kemudian honor setiap anggota Panitia
KPPS yang 6 oran masing-masin Rp 225.000 ( dipotong PPh 5% ).
Khusus Ketua KPPS Rp 250.000 ( dipotong PPh 5%).
Jatah uang makan Panitia KPPS adalah Rp 17.500 per orang ( 1 x ).

Yang menarik adalah, menurut Kata Pengantar Ketua KPU Provinsi
Jawa Barat yang tercantum pada Buku Panduan KPPS Pemilihan
Gubernur dan Wakil GUbernur Jawa Barat 2013, disebutkan
bahwa hari pemungutan suara Minggu tanggal 24 Februari 2013 adalah
merupakan puncak dari semua tahapan dan program yang telah dilaksanakan
sejak Juli tahun 2012, oleh mulai dari KPU Provinsi Jawa Barat,
KPU Kab/Kota se Jawa Barat, PPK tingkat Kecamatan, PPS tingkat Kelurahan/
Desa, dan TPS.

Sedangkan dana tersebut di atas, belum juga diterima oleh
Panitia KPPS kami di TPS 10, sampai dengan terakhir pengecekan
Selasa, 19 Februari 2013.

Walapun tangung jawab Panitia KPPS tetap kami laksanakan dengan
penuh tanggung jawab dan tulus ikhlas, tetapi kinerja KPU
Provinsi Jawa Barat beserta jajaran di bawahnya yang terlambat
mencairkan dana penyelenggaraan PilGub tersebut patut disayangkan.

Mengapa persiapan acara besar sejak Juli 2012, namun dananya
belum juga diterima Panitia KPPS sampai dengan H-5 ( Selasa, 19 Feb 2013).

Semoga saja pencairan dana dan distribusi Kotak suara berisi
logistik Pemungutan Suara paling lambat H-1 sudah diterima
oleh Panitia KPPS.

Ayo mencoblos pada Minggu 24 Feb 2013.

Hormat saya,

F. Sumirat
Panitia KPPS 10

| Meninggalkan komentar

What makes a good leader?

A good leader is undoubtedly someone who clearly understands the role and responsibilities of leadership and is commited to lead their team to a better performance and better future.
A good leader will typically be someone who leads by example and who:

* Behaves with integrity
* Is trusted and trusting
* Is respected and restpectful
* Communicates quickly, widely and effectively
* Seeks out and acts on other people’s views
* REcognises the contributions of others
* Is positive and enthusiastic
* Nurtures, supports and motivates others
* Is personally effective
* Never stops learnings

These are fundamental behaviours that leaders must demonstrateif they are to get the best out of the people that they lead. Setting the
right example by demonstrably living out these behaviours will result
in a positive, motivated, inclusive and ultimately successful working
environment.

| Meninggalkan komentar

International Standards for the Professional Practise of Internal Auditing

Dipublikasi di Auditing | Meninggalkan komentar